Posts

Adinda

Akhir-akhir ini saya ketemu perempuan yang menurut saya cantik dari berbagai hal. Saya nggak bilang dari semua hal, karena saya nggak tahu gimana keseharian dan sifatnya dia. Kalau menurut saya cantik, yasudah buat saya dia itu cantik dan semoga sifatnya pun tergambarkan dari parasnya. Sudah beberapa hari saya melihat si adinda satu itu. Dalam hati bilang "Ya Allah dia cantik banget ya." sambil terpana gitu hehehe, maklum yaa. Besoknya papasan lagi, ngomong lagi, "Ya Allah dia cantik banget si." sambil gemas-gemas sedikit. Gituuu terus kalau ngelihat dia. Enak dipandang, bersih, pakaiannya rapi, senyumnya manis, suaranya lembut. Duh, subhanallah pokoknya. Keesokkannya sore-sore saya ketemu dia lagi, dia di samping saya. Berhubung depan kami itu kaca dan berhubung tidak ada teman-teman yang mengganggu situasi untuk menyapa. Saya beranikan diri untuk melihatnya lewat kaca, saya ulaskan senyum. Dia pun membalasnya. Senyum si adinda ini manis sekali, setiap lihat...

Pergi Bukan Berarti Hilang

           Sebuah Taman yang berada di seberang Coffee House ini kurasa belum ada satu orang pun yang mengetahuinya, kecuali aku. Mungkin juga, Ini taman yang sudah lama tidak dikunjungi lagi. Terlihat dari keadaannya yang terlampau sepi sejak seminggu terakhir. Saat dimana aku sedang menyusuri jalan mencari udara segar dengan menggenggam Caffe Latte dan satu bungkusan yang nampak bertuliskan Coffee House. Aku menemukannya. Taman itu terletak dibalik pagar kayu seberang k edai kopi. Hanya terdapat satu bangku yang terbuat dari kayu yang panjangnya kurang lebih satu meter dan beberapa pohon rindang yang bertaburan disisi taman. Sejak saat itu, aku selalu mengunjunginya.             Hari-hariku terlihat sangat sepi, bukan berarti kosong. Yang ku punya hanya buku-buku dan satu kutipan seru ; Always around the world even if only in the bedroom . Benar. Aku mungkin sudah jatuh hati pada lembaran yang seti...

Apa Hayooo?

Image
Sekejap, efeknya lama. Apa ya? Minum obat? Bisa jadi. Tapi bukan. Hmm. Disuntik? Bukan. Saya takut disuntik. Apa dong? Saya juga lagi mikir. Kepeleset? Bukan. Yang ada saya malu. Lantas apa? Kamu bikin bingung Apalagi saya. Ayo pikir lagi.. Ketusuk? Bukan. Tapi iya kali ya. Ah kamu mah ga jelas. Maaf ya. Kamu rasa sakit? Iya. Eh engga. Ah saya juga ngga tau. Rasa nya dimana? Seperti apa? Disini. Di dada? Iya. Seperti ngga biasanya. Jauh lebih cepat? Iya. Selalu seperti itu? Engga. Hanya beberapa saat. Saat? Saat melihat ada seseorang dengan bunga-bunga. Ia membawa bunga? Engga. Lalu? Hanya dia yang memiliki bunga. Hanya dia? Di kepala-nya ada bunga-bunga. Hanya itu? Engga. Seluruh tubuhnya penuh bunga. Kenapa bisa? Saya juga ngga tahu. Kenapa ngga bertanya? Saya malu. Tidak perlu malu. Kenapa tidak perlu? Kalian sama-sama manusia. Benar juga. Tapi tetap saja kita berbeda. Apanya yang beda? Dia anak laki-laki. Lalu kenapa? Saya selalu menun...

Tak Ada Lagi Bunga yang Tumbuh.

Sehabis lelah hati. Yang tak kunjung. Dapat terobati. Hampir tiga tahun. Memanfaatkan seseorang. Alih-alih bisa termotivasi. Nyatanya hanya membuat beban. Yang tak kunjung berhenti. Lalu ku ikhlaskan sudah. Hujan disore itu. Menandakan. Takkan lagi ada harap. Yang harus dipenuhi. Dua sejoli menampakkan, Kehadirannya. Di bawah pohon rindang. Terhembus angin kencang. Ada hati yang terdiam. Sudah sejak lama. Ku tak mau ikut campur. Karena menurutku. Tak ada yang salah. Antara. Lelaki penebar pesona. Wanita penuh harap. Dan. Ia yang tak tahu apa-apa. Sampai saat ini. Ku pastikan. Tak kan lagi. Kubiarkan. Ada bunga yang tumbuh. Saat kau berkata "Hi" Saat kau mencoba mengulang. Cerita yang sudah bosan, Ku dengar.

Untuk Pertama Kali

waktu itu. dadaku sesak.. jalan tertunduk. ku tahan. agar tak jatuh. ku seka. meskipun tak kuasa. untung ada kau. ku luruhkan tubuh. ku angkat wajah. ku buat percakapan. antar dua pasang bola mata. "Mau nangis." Kataku memastikan. lalu kau peluk aku. dengan erat. tak terbendung lagi. kutumpahkkan. sejadi-jadinya. "Jangan keras-keras." "Nanti yang lain dengar." Katamu berbisik. untuk pertama kalinya. ada yang menenangkan. memelukku. orang lain . yang baru tiga tahun ku kenal. maafkan aku. saat itu. bahkan aku membiarkanmu. untuk tidak tahu. apa yang terjadi. terima kasih. sudah berkenan. mengetahui kebiasaan. menerima sifat-sifat. mendengar ocehan. dari keluhan. bercandaan. sampai nyanyi-nyanyi tak jelas. untukku. mendapatkan sesuatu. yang sangat berarti. dapat menyentuh hati. hanya 1 dari sekian. orang-orang. yang ku temui. jagalah diri. karna. kita tak ada. dilingkup yang sama. lagi. bukan lagi aku. y...

Flashback #1

Mari kita kembali ke beberapa bulan lalu. Ku ceritakan lagi bagaimana awal memperhatikanmu. Saat itu aku hanya anak baru yang tak tahu seluk beluk apapun. Waktu itu aku masih anak baru yang selalu menuruti apa yang harus dan tidak aku lakukan, dari kakak tingkatku. Alih-alih tak ingin punya masalah dengan siapapun. Waktu itu sempat ku melihat ada seseorang yang duduk di belakang kelas, ikut mengawasi jalannya kegiatan. Entah kulupa, apakah ia memakai almamaternya atau tidak. Beberapa hari sebelumnya pun begitu, ia ikut melihat jalannya kegiatan, ku pikir dia anak dari mana, sebab hari itu ia tak seperti kakak-kakak yang lain, mengenakan almet. Sejak saat itu aku selalu tidak sengaja melihatnya ada dimana-mana. Beberapa waktu kemudian, ia dan temannya duduk di depan kelas untuk menjelaskan bagaimana caranya agar bisa mengikuti organisasi fakultas. Ia dengan almetnya dan kaos berwarna hijau tua, ku rasa. Duduk bersila di depan mahasiswa baru. Ia tepat di depan barisan dudukku. Aku yang...

Satu yang Terlewatkan Olehku

Hampir 10 tahun nggak ketemu. Kamu pun sudah nggak ingat saya. Pernah saya coba menghubungimu 2 tahun lalu. Saya pun memperkenalkan diri lagi. Sempat saya lihat beberapa postinganmu. Ada fotomu sedang bersama kekasihmu dan fotomu bersama teman-temanmu. Senyummu yang mengembang. Saya pikir hidupmu sedang bahagia-bahagianya dengan teman-temanmu yang sekarang. Kemudian saya pun memutuskan untuk pergi secara diam-diam, karena saya rasa kamu hanya menganggap saya orang asing. Inilah resiko teman masa kecil yang saya harus tanggung, sendirian. Hey. Saya rindu. Semoga kebahagiaan selalu menyertaimu dan keluargamu. Saya memang nggak ingat jelas tentang mu, tentang masa kecil kamu dan saya saat sedang di Taman Kanak-Kanak, saat masih berada disatu lingkup yang sama. Kalau saja waktu itu ibuku tidak memutuskan untuk pindah rumah, mungkin nggak seperti ini jadinya. Tapi kurasa semua juga tahu, yang namanya kalau memang hanya untuk berangan-angan. ikuti saja alurnya. Biarlah saya menjadi seseor...